Rabu, 15 Februari 2012

Bejo Pengen Dadi Romo Part II; Sekelumit Kisah Pengalaman Di Novisiat


Hari Minggu tanggal 29 Januari kemarin aku bersama teman-temanku mengikuti misa sekaligus kunjungan ke Novisiat MSC Sananta Sela Karanganyar. Kami mengikuti misa di Gereja Santo Yohanes Pekerja Karanganyar. Pada kesempatan ini kami para siswa-siswi SMP PIUS BU Gombong bertugas koor saat misa. Aku sangat senang dan sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Aku tahu bahwa Novisiat adalah tempat pendidikan frater-frater novisiat MSC.
            Saat misa hendak dimulai aku melihat banyak sekali para frater yang menggunakan jubah putih panjang seperti para frater projo pada saat miskel kemarin. Para frater duduk di dekat kami, para petugas koor. Hatiku kembali merasakan sesuatu hal yang aneh. Di sela-sela aku menyanyi selama misa akupun terus memandangi para frater novis. Seolah-olah aku ingin duduk di antara mereka. Aku ingin memakai jubah yang mereka kenakan. Akupun turut takjub ketika melihat para frater novis mengisi koor saat komuni. Suara mereka sangat baik. Akupun ingat kembali dengan para frater projo yang mengisi koor saat miskel dulu. Mereka bernyanyi dengan semangat.
            Misapun usai, kamipun diajak untuk mengenal lebih tentang novisiat. Akupun sangat senang. Pertama-tama kami diajak untuk sarapan bersama dengan para frater dan romo. Aku melihat kesibukan para frater ketika sedang mempersiapkan sarapan untuk kami semua. Mereka terlihat sangat heboh dan antusias. Dari sinipun aku mulai memberanikan diri untuk berkenalan dengan para frater. Aku mulai berbincang-bincang debgan mereka. Sebelum sarapan kami semua berdoa terlebih dahulu. Para frater novis tampak senang akan kedatangan kami semua. Setelah sarapan, para fraterpun mencucikan gelas dan piring kami semua. Kami tidak diijinkan untuk membantunya.
            Setelah itu acara dilanjutkan dengan kumpul bersama dengan para frater novis. Kami diajak untuk bermain bersama. Suasana sangat meriah. Acara demi acara dipandu oleh frater Brando dan frater Emild. Selain berbnyanyi kamipun dikenalkan bagaimana asal-usul dan seluk beluk tarekat MSC, mulai dari siapa pendirinya, apa visinya, apa misinya dan masih banyak lagi. Tak hanya itu kamipun diajak untuk melakukan beberapa permainan yang sangat menantang. Ada juga cerita pengalaman panggilan dari Bruder Fibren. Kisahnya sangat menarik.
            Akhirnya acarapun usai, kami lalu berpamitan. Tetapi  sebelumnya kami berfoto bersama para frater. Akupun serta teman-temanku sangat antusias. Aku kebetulan berdiri di sebelah frater Brando. Kami berdua seperti orang gila. Kami bergaya sangat heboh menggunakan gaya salah satu girlband di Indonesia berjuluk cherrybelle. Hahah
            Setelah berfoto bersama, kamipun beranjak pulang. Rasanya sedih ketika akan meninggalkan tempat ini. Gejolak hati ini seakan mengajakku untuk lebih bisa mengenal dunia kaum selibat. Terimakasih untuk para frater yang sudah mengenalkanku terhadap kehidupan di novisiat, mengenalkanku lebih jauh tentang terekat MSC. Aku beruntung bisa mengetahui semuanya itu. Terimakasih juga untuk para frater yang telah menyediakan sarapan untuk kami semua dan sekaligus dengan rela mencucikan piring-piring kami. Terimakasih pula untuk frater Brando yang sudah membuat suasana menjadi tambah semarak alias heboh. Tidak lupa juga terimakasih untuk frater Ivan yang sudah memoteret kami. Maafkan jika gayaku dan teman-teman yang narsis-narsis memenuhi kamera frater. Hahaha……….

  • “aduh………aduh…… ampun buk, masa aku di jewer ??”
  • “ayo cah ayu sinau, ojo menghayal wae!!! Wingi try outmu bijine elek toh??”
  • “iyaiyaiya, sooryy buuuk akukan ra sinau wingi,, wkwkwk”
  • “ yo makane rasah kakean cerito, koe ki ra mungkin dadi romo kok, kowe kan wedok! Wes ndang sinau!!”
  • Hahahahahahahah,,, yyoooohh… mannut..

Minggu, 22 Januari 2012

Bejo Pengen Dadi Romo






Suatu ketika ibuku bertanya: “Bejo, sebentar lagi mkau kelulusan, piye kamu mau daftar ke mana?” Sontak aku mmenjawab: “aku mau ndaftar seminari bu..!” Ibuku sangat kaget dan bertanya lagi padaku: “wah, sejak kapan kamu ingin jadi romo le?” Lalu akupun berkata : “sejak ikut miskel kemarin bu..”
            Ya, semua memang benar adanya. Tanggal 30 Desember-1 Januari kemarin aku mengikuti misa keliling se-dekenat selatan. Acara yang dihadiri oleh kaum muda katolik dari berbagai wilayah. Ada yang dari Paroki Kroya, Cilacap, Kebumen, Gombong, dan masih banyak lagi. Akupun menjadi salah satu pesertanya. Misa keliling kali ini berbeda dat\ri yang sebelumnya. Panitia mengundang para frater Joker ( projo purwokerto ) untuk hadir turut serta.
            Ada 14 frater yang hadir. Jujur baru kali ini aku bertemu dengan frater sebanyak itu. Akupun memberanikan diri untuk berkenalan dan berbincang dengan mereka. Ada Frater Rendy, Frater Wawan, Frater Ia, Frater Ucup, Frater Titus, Frater Budi, Frater Widi, Frater Theo, Frater Ontong, Frater Bram, Frater Agung, Frater Vigo, Frater Dody, dan Frater Hery. Senang sekali rasanya ketika aku bisa berbincang dengan mereka. Mereka sangat baik, ramah dan perhatian. Ketika aku melihat mereka, aku merasakan aura lain yang tidak dimiliki oleh sembarang orang. Aku melihat pancaran sinat kasih dan kebahagiaan dari mata mereka. Sepertinya mereka tidak punya beban hidup dan selelu senamg setiap saat.
            Jika sedang bergurau dengan mereka, para freter banyak menceritakan pengalaman mereka khususnya kehidupan di seminari. Mulai dari kisah di Seminari Menengah, kisah peregrinasi, dan kisah di Seminari Tinggi. Aku sangat antusias mendengar cerita mereka. Sangat menarik dan luar biasa. Semakin aku mengenal mereka semakin kuat juga rasa hati ini untuk mampu menjadi seprti mereka.
            Pada misa malam tutup tahun aku melihat para frater mengisi koor dan ada beberapa frater yang memainkan alat musik. Mereka menyanyikan lagu misa dengan bahasa latin. Sangat indah ! suara mereka sangat merdu. Aku juga melihat mereka mengenakan jubah putih panjang. Jubah itu sangat menewan. Pasanya jubah itu seperti bersinar. Lagi-lagi hati ini bergejolak, ingin sekali rasanya bisa mengenakan jubah itu, entah mengapa.
            Akhirnya tibalah pada acara terakhir yaitu misa penutupan + misa tahun baru. Aku kembali menyaksikan para frater mengenakan jubah putih panjang itu lagi. Namun saat misa di mulai ada seorang frater keluar dengan mengenakan pakaian bak penari serta menggunakan topeng. “Itu Frater Titus !” sontak aku berteriak. Dalam hati aku berkata: “ wah, aku pengen bisa nari kayak gitu.”
            Bukan hanya itu, ternyata para frater menampilkan teater yang sangat apik dan memukau. Pemainnya adalah Frater Bram sebagai Semar, Frater Vigo sebagai Bagong, Frater Ia sebagai Petruk, Frater Wawan sebagai Gareng. Mereka memeran kah tokoh pewayangan Punokawan. Teater ini menceritakan tentang kisah Bagong yang ingin masuk seminari alias kepengin dadi romo. Dalam cerita Bagong mengatakan ada 3 tes untuk mmasuk seminari yaitu : 1.Tes Intelektual, 2.Tes Kerohanian, 3.Tes Selibat ( tidak menikah ), begitu yang aku tangkap. Dari situ jujur aku semakin tertantang untuk berani menjajal seperti apa yang sudah dilakukan Bagong. Teaterpun selaesai, ditutup oleh sebuah lagu yang dinyanyikan oleh frater Rendy. Lirik lagu yang sangat aku suka, dan yang aku ingat sampai saat ini adalah “lalalalal…. Aku seneng dadi projo Purwokerto”
            Miskelpun usai. Kami semua lalu pergi ke ruang makan untuk santap siang. Sampai di sana aku menghampiri Frater Ia dan bertanya: “frater capek yo?” lalu frater manjawab : “ia, capek iki jo! Tapi tetep seneng kok, tetep semangat, hehehehe!” Setelah itu akupun menghampiri beberapa orabng frater yang sedan makan. Aku duduk di sebelah mereka. Salah satu dari mereka menyuruhku untuk mendaftar ke Seminari. Akupun hanya tertawa untuk menjawabnya. Aku berbalai bertanya, mengajak para frater untuk bermain bola berssamaku bila ada waktu. Fraterpun menjawab: “main bolanya besok di lapangan seminari Mertoyodan ya!” akupun menganggukan kepala menjawab pertanyaan itu.
            Para fraterpun pulang kembali ke rumah mereka masing-masing, saat berpamitan mereka mengatakan padaku agar aku mencoba untuk mendaftar ke Seminari Mertoyudan. Rasanya sedih hati ini ketika mereka semua pergi, bukan karena apa-apa, namun rasanya hati ini semakin kuat untuk menjadi salah satu bagian dari mereka. Ingin sekali mengenakan jubah yang mereka kenakan.
            Dari situ aku mulai sadar bahwa keinginanku untuk bisa menjadi romo semakin kuat. Panggilanku sepertinya semakin kuat. Aku sangat bangga pada frater-frater itu. Mereka rela meninggalkan apapun, rela menyerahkan diri mereka seutuhnya pasa Tuhan. Aku melihat pancaran kasih dan semangat dari dalam diri mereka.
            Akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar ke sebuah SMA, dimana aku percaya di SMA itu aku akan di godhog hingga matang, sehingga panggilanku semakin tumbuh kuat. Bukan SMA nomor satu, bermodel mewah, atau apalah. Seminari Menengah Petrus Canisius Mertoyudan. Di situlah aku menentukan pilihanku. Tidak mau tahu apa kata orang, mau dikatakan sekolahnya tidak mengasyikan karena diperuntukan khusus bagi kaum adam atau apalah, yang penting itu tidak menjadi penghalang bagiku. Aku yakin itu merupakan tempat yang cocok bagiku. Aku ingin belajar banyak hal disana.
            Setelah lulus dari sanapun aku ingin bersekolah di tempat yang sama dengan para frater Joker tadi. Aku ingin menjadi teman mereka, ingin menjadi saudara mereka, dan ingin menjadi bagian dari mereka. “aku pengen dadi projo Purwokerto” kata-kata itu yang selelu ku ingat dalam hati.
            Terimakasih untuk frater semua yang secara tidak langsung sudah menumbuhkan panggilanku ini. Ini sangat misteri, panggilanku muncul secara tiba-tiba. “Frater-frater tunggu aku di Seminari ya!, Hidup frater Joker!!”

Kringg…. Kringg…. Kringg…. Kringg…. Kringg….
* ahhh, berisik sekali, aku masih ngantuk!! Hooooaaaammmm
* eeeeeee, Bejo ayo bangun, katanya hari ini mau ndaftar ke Merto ? AYO BANGUN !!!
* Walahhh aku kelalen buu.. aku kemalaman tidurnya, soale kemarin habis chatingan sama frater, nanya-nanya masalah pendaftaran di Seminari.. Hoooooaaamm
* eeeh kok malah molor lagi, ayo mkita sudah telat!!
* haaaaaaaahhh??? Aduh..aduh..aduh

-Hahahahah,
Aduh sory kalau ceritaku ndak cetho, ngombro-ombro,
Sekedar iseng bercerita saja,
Ajang mengembangkan bakat kreativitas,
Oleh-oleh miskel juga,
Maaf kalau jelek dah aneh..
Salam dari Bejo ^^..
Terimakasih.

Sabtu, 21 Januari 2012

Air Mata Untukmu Indonesia


Kalian semua boleh menganggapku cengeng atau apalah, namun sebenarnya ini perasaanku, perasaan yang sudah kian lama terpendam.
Akupun keluar dari permenunganku. Mencoba menilik keluar sejauh mana aku mampu. Semua tampak luar biasa, teknologi sudah semakin canggih. Semua kebutuhan mudah dicari, didapatkan dan tentunya digunakan. Aku tahu di zaman yang maju ini semua bersifat instan, inginnya cepat. Tapi semua ada karena uang. Uang bak segalanya di zaman sekarang. Uang bagaikan raja ! semua hampir mengejar dan ingin mendapatkan yang namanya uang. Dari situ aku mulai melihat apa yang terjadi saat ini. Anganku mulai berlari, menjamah segala ingatan dan pengetahuan sejauh mana yang aku tahu.
Miris hati ini ketika melihat orang-orang berpakaian mewah itu berebut sebuah kursi. Ukiran kursi itu memang indah, namun mengapa harus diperebutkan? Aku tidak tahu siapa mereka, pokoknya melihat dari penampilan mereka sepertinya mereka orang yang sangat kaya. Aku sering melihat mereka di televisi. Aku juga sering melihat gambar muka-muka mereka terpampang di pinggir jalan. Entah perasaan apa ini ketika aku melihat mereka rasanya ingin menghapusnya dari pikiranku. Aku rasa mereka sangat jahat. Mereka sangat berbeda denganku. Mereka selalu bergonta-ganti mobil,sedangkan aku ? punya sepeda saja boro-boro. Rumah mereka tingkat tiga, sedangkan rumahku ? hanya terbuat dari anyaman bambu saja. Aku tidak tahu mengapa aku bisa mengenal mereka. Apakah ini akibat dari globalisasi itu ? ah sudahlah lebih baik kujalani dulu saja.
Hati ini seakan teriris pedih melihat realita yang ada. Merasa bahwa ini semua curang dan tidak adil. Belum lama ini ku dengar mereka hendak merenovasi toilet dengan anggaran 2 milyar. Tak terpikir olehku seberapa banyak uang itu. Berbeda denganku yang hanya orang pinggiran, mempunyai uang seribu saja sudah sangat bersyukur. Toilet saja semahal itu, bagaimana dengan fasilitas yang lainnya ya?
Kabar lain yang aku dengar bahwa kursi yang akan mereka duduki saat pertemuan rapat, satu kursi harganya 24 juta. Hati ini seakan merasa dicurangi dengan keadaan ini. Ingin rasanya aku tidak mengetahui kabar ini bila mendengarnya perasaan ini menjadi sedih.
Akupun menangis, meneteskan air mata, meskipun aku tidak tahu apa yang harus aku tangisi. Uang yang sudah mereka hambur-hamburkan tidak mungkin aku miliki. Aku lebih bahagia dengan kehidupanku saat ini dibandingkan kehidupan mereka. Aku tidak ingin memiliki berjuta-juta kekeyaan bila dengan adanya keayaan itu aku menjadi sombong.
Akhirnya sekarang aku tahu untuk siapa air mata ini. Untukmu Indonesiaku. Mengapa semua ini bisa terjadi pada negriku yang kubanggakan ini ? maafkan aku negriku, aku sudah tidak mampu untuk menahan air mata ini. Tetapi setelah berhentinya air mata ini aku  berjanji, akan selalu berusaha tegar dan selalu semangat, berusaha mengubahmu Indonesiaku menjadi Indonesiaku yang lebih bail lagi.

Jumat, 20 Januari 2012

Riwayat Santa Lusia

Kekejaman Kaisar Dicletianus terhadap penganut Kristus telah terkenal. Namun bagi penganut Kristus sendiri bukan merupakan empang yang dapat membendung bertambahnya jumlah mereka. Makin banyak darah yang tercurahkan, makin besar pula jumlah yang timbul lagi. Darah beku dari para martir merupakan benih kekal agama Katolik.
Akibat kekejaman musuh Kristus tak dilupakan para Kristiani baru itu. Mereka datang mengunjungi makamnya... Berdoa sambil memohon kekuatan agar dapat melanjutkan perjuangan  keyakinannya dengan tabah.
Kaisar telah jemu, maka mereka pun yang tadinya terancam hidupnya, dengan aman dapat hidup bersama keluarganya lagi. Mereka berani bertindak ke luar dengan mendirikan gereja-gereja, mengadakan upacara-upacara persembahan, perarakan mengelilingi kota dan lain-lainnya.
Begitu pula halnya bagi kota Syracusa, ibukota pulau Sicilia, yang karena akibat kekalahan Kartago dalam perang Punis I menjadi negara jajahan Roma. Semua undang-undang yang diciptakan Kaisar Roma berlaku juga bagi negara Sicilia.
Pagi itu Syracusa masih berselimutkan embun dingin, namun Lucia dan ibunya yang sakit-sakitan telah meninggalkan rumahnya.... gedung indah di tepi jalan besar, untuk menikmati keindahan taman yang melingkarinya.
Lucia adalah puteri bangsawan kaya lagi ternama. Sayang sekali, meski pun keluarganya beragama Katolik, ia telah dipertunangkan dengan Tertullus, bangsawan yang tak seagama dengan Lucia. Orang tuanya mengambil keputusan ini dengan harapan agar Lucia dapat mempengaruhi hidupnya, sehingga Tertullus menjadi Katolik pula.
“Ibu,” kata Lucia memecah kesunyian.
“Kabarnya banyak peziarah di makam Santa Agatha yang dikabulkan doa dan permohonannya. Orang-orang sakit banyak yang disembuhkan! Baik kita coba juga.”
“Berziarah...aku?” tanya ibunya keheranan.
“Ya, mengapa tidak! Sambil bertamasya, mencari pemandangan lain!”
“O, jadi itu maksudmu! Memang, betul kejam aku selalu mengikatmu di rumah.”
“Ah bu!” seru Lucia terperanjat.
“Sungguh bukan begitu pikiranku! Sungguh senang hatiku dapat merawat ibu!”
“Dan tunanganmu, juga kau ajak nanti?” tanya ibunya pula sambil mengusap-usap tangan Lucia.
“Ya, boleh kucoba juga. Tapi, ibu tahu, makam Santa Agatha bukan tempat untuk beramai-ramai serta bersenang-senang. Agaknya dia tak mau!”
Sambil mengamat-amati paras Lucia dan kemudian pandang matanya diarahkan jauh ke muka... ibunya berkata, “Nah Lucia, baiklah! Selesaikan saja apa yang perlu untuk perjalanan kita!”
Lucia melompat-lompat kegirangan sambil berseru, “O ibuku tercinta, belum pernah aku memimpikan boleh mengunjungi tempat sakti itu!”
Ibunya tersenyum melihat Lucia seriang itu. Ya, begitulah tabiat anaknya. Penjelmaan pancaran rasa yang tidak terhambat. Air mata dan gerak silih berganti di mukanya seperti siang dan malam. Sebentar iba, sebentar berderai gelaknya yang segar. Segala sesuatu di sekitarnya dikenangi dengan sepenuh kalbunya.
Beberapa hari kemudian, berangkatlah sebuah kafilah kecil dari kota Syracusa, menuju ke makam Santa Agatha. Di muka sekali dua buah tandu bertenda, lengkap dengan tirainya. Dugaan Lucia benar, tunangannya tidak sudi menyertainya.
“Apa gunanya mengunjungi makam batu,” katanya.
“Sunyi yang membisu tak usah kucari, akan datang padaku sendiri! Pergilah kau, asal aku tidak terbawa-bawa.”
“Terserah,” sahut Lucia dengan pendek dan matanya menjadi pudar lagi. Bibirnya bergerak-gerak seperti orang yang sedang menahan tangisnya. Hatinya kecut sekali. Itukah orang tempat di mana dia harus berlindung kelak? Dan ibunya rupanya tidak mengetahui tingkah laku tunangannya yang kasar dan loba!
Namun pemuda bangsawan yang hanya mengindahkan kepentingannya sendiri, tidak menghiraukan perubahan pada paras Lucia.
Setibanya di tempat yang dituju, Lucia menolong ibunya turun dari tandu. Lalu mereka meninggalkan para pengiring dan berdoa di makam Santa Agatha. Dan, pada waktu berdoa, yang tidak disangka-sangka terjadi. Tiba-tiba ibunya sembuh sama sekali.
Karena perasaan terharu, Lucia meniarap di atas batu kubur sambil mengucapnya beberapa kali. Sedangkan ibunya tak berkuasa mengatakan apa pun. Air matanya berlinang-linang lebih nyata memaparkan isi hatinya.
Sebagai tanda terima kasihnya kepada Tuhan dan SantaNya, Lucia meminta kepada ibunya agar uang yang akan dipakai untuk mendirikan rumah dan membeli perabotnya bagi Lucia, dibagikan saja kepada para fakir miskin.
Matanya ibunya membeliak keheranan, “Ah Lucia, sayang, kau itu tidak kenal ukuran dalam segala perbuatanmua! Jadi kau mau tinggal di rumah ibu saja sesudah kawin?”
“Kawin, barangkali.... Bukankah masih banyak gadis lain tinggal di kota Syracusa!”
Ibunya ternganga keheranan.
“Lucia,” serunya.
Malam itu, mereka tidak membahas lagi tentang hal itu.
Tapi keesokan harinya, ibunya berkata, “Ibu pun merasa berhutang budi terhadap Santa Agatha. Maka uang simpanan yang hendak kau bagi-bagikan, ambillah! Tapi pertalian yang telah mengikat dirimu, tak boleh kau putuskan, Lucia. Kau harus menikah dengan Tertullus.”
“O tentu ibu, namun hanya bila dia tahan uji dan tidak gila harta!” sahut Lucia.
“Aku tidak mengerti pikiranmu, Lucia,” ujar ibunya pula dengan agak sedih.
“Tak mengapa bu, kelak ibu akan mengerti!”
“Jangan putus asa, Lucia! Mudah-mudahan, karena pengaruhmu, Tertullus akan mau beragama Katolik sesudah menjadi suamimu.”
Seketika sunyi senyap.
Lalu Lucia berkata, “Karena pengaruhku? Ah tidak bu, mungkin karena pengaruh uangku. Coba ibu saksikan saja.”
Tiap-tiap hari segerombolan para miskin di kota Syracusa, mendapat surat undangan datang di rumah Lucia untuk menerima pemberiannya, yang diterimanya dengan sangat gembira pula. Tiap hari Lucia membagikan sebagian dari uang simpanannya yang banyak itu. Orang menggeleng-gelengkan kepalanya dan menyiarkan kabar yang aneh itu dan sampai pula di telinga Tertullus yang menerima dengan marahnya.
Segera ia pergi ke rumah Lucia, “Gilakah engkau, Lucia? Apa maksudmu memboroskan uang sebanyak itu?”
Lucia memandang kepada Tertullus dan dengan tenang berkata, “Gilakah aku jika mempunyai keinginan kaya raya kelak? Aku sedang membayar dan semoga dapat melunasi rumah kita di surga.”
Marah Tertullus makin menjadi, “Omong kosong....takhayul belaka. Besok akan kuusir mereka dari halaman!”
“Kau belum berhak bertindak di halaman ini, Tertullus. Tambahan pula, menurut perjanjian, uang simpananku telah menjadi hak milik para miskin.”
“Kularang kamu menepati janji itu,” teriak Tertullus dengan sangat marah.
“Jika tidak.....”
“Apa jika tidak,” tanya Lucia.
Tertullus tak menyelesaikan kalimatnya dan terus pergi. Sejak saat itu, ia tak tampak lagi datang di rumah Lucia.
Panas hatinya dan kelobaannya akan harta, membuatnya berusaha untuk membalaskan dendamnya. Ia sendiri menjadi pendakwa tunangannya. Hakim yang tidak beriman pun mempersembahkan surat tuduhannya kepada Sri Baginda Kaisar Roma.
Maka, api yang telah lama padam, dengan tiba-tiba saja mulai bergelora lagi. Lucia disalahkan dan dituntut di muka hakim.
Ibunya menangis tersedu-sedu mendengar kabar itu. Dan Lucia mencoba menghiburnya.
Katanya, “Jangan khawatir bu! Tunangan pilihan ibu tak sudi menerimaku karena merasa kehilangan harta. Namun, kekasihku yang sejati telah menyediakan tempat kediaman bagiku di Firdaus Surga. Sebab itu agaknya ibu disembuhkan lebih dahulu, supaya tidak membutuhkan perawatan lagi.”
Lalu Lucia memeluk ibunya dan berangkatlah dia akan menghadap ke pengadilan.
Ruang yang luas telah penuh sesak orang yang ingin mengetahui bagaimana keputusan perkara istimewa itu. Tepat pada waktunya pintu sebelah muka terbuka.
Seorang puteri bangsawan, cantik lagi muda, diiringkan masuk.
“Lucia,” bisik sekalian hadirin.
Mata mereka seperti hendak menelan gadis itu.
Lucia menunggu dengan tenang, kepalanya terangkat sedikit, senyum kecil menghiasi bibirnya. Gaunnya dari sutera, putih halus. Kain tudungnya cerah bertepikan sulaman benang emas. Pada tangannya yang tampak ke luar sedikit dari ujung kain tutup itu, kelihatan sepasang gelang indah buatannya. Sedangkan kakinya yang kecil beralaskan sepasang selop yang sedang tinggi tumitnya.
Pada hari-hari yang terakhir, dapatlah Lucia menyusun pikirannya. Yang kecil-kecil, yang meragukan hatinya, tak dipedulikannya lagi. Hanya satu perkara yang terang teringat olehnya. Ia harus mempertahankan kesucian jiwanya dan mempertahankan kepercayaannya!
Sekali lagi pintu muka terbuka, masuklah Paschasius, pembesar kota Syracusa.
“Daulat tuanku,” seru sekalian hadirin sekuat-kuatnya yang dijawab Paschasius dengan senyuman.
Apakah senyuman itu timbul dari kesenangan hati ataukah mengandung kebanggaan karena insyaf ia sedang disanjung-sanjung? Entahlah!
“Lucia!” suara hakim menyebabkan seisi bangsal membisu.
“Atas nama Sri Baginda Kaisar Diocletianus, sembahlah berhala itu dan taburkanlah beberapa butir kemenyan dalam pendupaan itu!”
Lucia tidak bergerak, namun suaranya nyaring terdengar, “Maaf, tapi menurut pendapatku, hanya Kristus yang boleh disembah secara begitu.”
Para hadirin mulai gelisah.
Maka berteriaklah si hakim, “Tak kusangka engkau sejahat itu! Engkau telah berani memboroskan uang ayah bundamu, dan sekarang berani melanggar titah Kaisar. Perbuatan anak yang durhaka itu tiak boleh kubiarkan saja. Rasakan nanti pukulan cemeti, anak jahanam!”
Sambil menarik nafas panjang Lucia menjawab, “Tuduhan ini tidak beralasan. Seumur hidup aku jaga baik-baik kemurnian jiwa serta tubuhku. Cinta itu tak akan kuabaikan.”
O, alangkah besarnya bencana yang menimpa Lucia kini!
Paschasius terhasut setan rupanya. Dengan bermacam-macam cara, Paschasius mencoba merusakkan kekuatan Lucia. Namun Lucia tak dapat diganggu atau digerakkan lagi. Kemudian seorang algojo menikam leher Lucia dengan kejamnya.
Seorang wanita bangsawan yang tidak mengindahkan coreng angus pada gaunnya, membungkuk di samping Lucia. Sebentar Lucia membukakan matanya.... “Ibu!”
“Berbahagialah Lucia.” bisik ibunya sambil menunjukkan seorang Imam yang siap sedia menerimakan Ekaristi Suci.
Lucia menyambut untuk terakhir kalinya. Senyum bahagia menyinari parasnya yang sudah memucat. Sejurus kemudian, bercerailah roh Lucia dengan badannya yang murni itu.
Dan manusia yang oleh keangkuhannya menyangka, bahwa dunia inilah tempat yang seutama-utamanya dan semulia-mulianya tidak memahami hal Lucia. Mereka pergi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun Tuhan Yang Mahaadil, berpendapat lain sekali.
Pada tanggal 13 Desember 304, Santa Lucia diangkat sebagai puteri Surgawi.

YUK CINTAI KITAB SUCI

Dalam kalender gereja katolik, bulan September diperingati sebagai bulan kitab suci nasional.Bulan kitab suci nasional kali ini mengambil tema “Mendengarkan Tuhan Bercerita.”
Di zaman yang moderen ini , membaca kitab suci mugkin dianggap asing bagi sebagian besar anak-anak, para remaja bahkan orang dewasa.Tak dipungkiri kehadiran berbagai macam alat elektronik seperti handphone, komputer, internet terutama yang membuat banyak orang ketagihan untuk memainlannya setiap hari dan mengesampingkan kitab suci.Padahal dengan membaca kitab suci kita memperoleh banyak pengetahuan dan kebenaran dalam kehidupan di dunia ini baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang lain,selain itu juga dengan membaca kitab suci iman kita menjadi kuat dan kitapun dapat meneladani sikap-sikap dan cara hidup tokah-tokah dalam kitab suci.
Dalam rangka memperingati bulan kitab suci nasional dan memperingati hari ulang tahun taman bacaan rohani yang ke-6, Paroko Santo Mikael Gombong menyelenggarakan lomba baca cerita, bercerita tentang nabi-nabi, dan mendongeng dari kitab suci, pada hari Minggu,25 September 2011 yang bertempat di TK Pius Bakti Utama Gombong.
Sejak pukul.08.30 WIB, halaman TK Pius sudah dipenuhi dengan gelak tawa suara anak-anak dan peserta lomba baca cerita,bercerita, dan mendongeng.Mereka semua melakukan pendaftaran pada panitia,mengambil nomor undian tampil dan memasangkannya pada baju mereka.
Lomba-lomba tersebut dimulai pukul 09.30 WIB, tetapi sebelum dimulai dibacakan terlebih dahulu penganter pembukaan oleh pembawa acara utama yaitu Kak Teresia Yayi Fitriadewi.Yang pertama adalah ucapan selamat datang pada para peserta lomba, dewan juri, dan para penonton kemudian pembacaan tujuan diadakannya lomba, dilanjutkan dengan pembacaan visi dan misi taman bacaan rohani, dilanjutkan dengan doa pembukaan oleh Bapk Petrus Sudayat selaku ketua panitia lomba, disambung dengan sambutan dan pembukaan oleh Ketua Bidang II Parokki Santo Mikael Gombong yaitu Ibu Dionisia Siti Djumirah. Setelah selesai pembawa acara memberitahukan kepada peserta lomba baca cerita agar tetap berada di aula TK Pius,peserta lomba baca cerita agar menuju ruang A1 dan B1 TK Pius, dan peserta lomba mendongeng menempati ruan perpustakaan TK Pius. Para pesertapun menuju ruang lomba masing-masing untuk mendapatkan pengarahan dari pembawa acara.
Lomba baca cerita ditujukan untuk anak-anak usia SD kelas 3 sampai kelas 6. Ketika pembawa acara yang bernama Fidelia Oka Anatha dan Lusia Cici Iswanti menyapa mereka dan membacakan ketentuan lomba, raut wajah mereka sangat bersemangat, sepertinya mereka sangat bahagia mengikuti perlombaan ini, tapai dibalik itu semua pasti ada rasa takut atau gelisah karena akan menghadapi lomba. Lomba baca cerita ini diikuti oleh sebanyak 63 di usia 9-12 tahun. Lomba ini dinilai oleh 3 orang juri yang bernama : 1.Ibu Anastasia Suryaningsih,2.Ibu Maria Florentina Budiati,3.Sr.Roberta,ADM. Satu per satu anak mulai maju membacakan kutipan kitab suci yang sudah mereka siapkan dari rumah. Mereka sungguh berusaha menampilkan penampilan yang terbaik untuk para juri dan penonton.Mereka semua berharap untuk menjadi juara. Setelah mereka maju untuk membaca merekapun lalu melepas nomor undian yang terpasang di baju mereka dan yang kemudian mereka tukarkan dengan sebungkus snack yang berisi 1 gelas air mineral, 1 buah arem-arem,2 permen,dan 1 plastik kecl agar-agar, setelah menerimanya merekapun kembali duduk. Di sela-sela penampilan mereka ada juga penampilan mendongeng dari Bapak Agus Supriyanto, satu-satunya peserta mendongeng dari kitab suci pada perlombaan ini, beliau mendongang tentang anak yang hilang dengan versinya sendiri,beliau berpakaian seperti tokoh pak raden dalam film unyil, hal ini membuat anak-anak penasaran untuk mendengarkannya.Saking asiknya mendongeng ia lupa bahwa waktu yang diberikan sudahlah habis,akhirnya salah satu juripun memberhentikannya.Selain itu ada juga penampilan mendongeng dari Bapak Sigit, semua anak terlibat dalam dongeng Pak Sigit.Jujur bahwa lomba ini adalah lomba yang memerlukan banyak waktu, ketika para peserta lomba bercerita dan mendingeng sudah pulang kebih awal, para peserta lomba baca ini masih setia menunggu gilirannya.Sebagian besar anak-anak memilih untuk pulang ke rumah setelah mengambil cnack dibanding menunggu perlombaan sampai selesai.
Lain halnya dengan perlombaan bercerita tentang nabi-nabi, lomba ini ditujukan untuk para remaja tinglak SMP dan SMA.Setelah mereka memasuki ruangan lomba, Kak Yayipun selaku pembawa acara membacakan ketentuan lomba, sama halnya dengan anak-anak tadi meskipun mereka bersemangat mengikuti perlombaan ini, namun pasti ada rasa takut jga.Lomba ini diikuti oleh 15 peserta yang terdiri dari remaja kelas 7 SMP sampai 12 SMA usia 12-17 tahun.Lomba ini dinilai oleh 3 orang jiri yang bernama: 1.Ibu Yoana.W,2.Ibu Wiwi,3.Bapak Marno.Pembawa acarapun memanggil mereka maju satu per satu.Setelah mereka tampil mereka melepas nomor undian mereka dan memberikannya kepada Kak Yayi dan menukarnya dengan sebuah snack. Karena aku juga termasuk salah satu peserta akupun juga merasakan apa yang dirasakan peserta lain, sesaat sebelum tampil mendadak jantungku berdetak lebih kencang, tanganku dingin seperti tak ada darah yang mengalir.Inikah rasanya takut?Setelah lomba selesai peserta lomba berceritapun pulang, tetapi ada juga sebagian dari mereka yang masih ingin melihat lomba-lomba yang lain.
Berbeda juga dengan perlombaaan mendongeng dari kitab suci, lomba ini ditujukan untuk semua orang dewasa, entah saat itu semua orang dewasa sedang sibuk,malu atau tak sempat, peserta lomba mendongang ini hanya diikuti oleh 1 peserta saja yang bernama Bapak Agus Supriyanto,menurutku kita harus bangga pada beliau karena walaupun tidak ada peserta lain yang mengikuti lomba ini,beliau tetap senag mengikuti perlombaan ini dan dipastikan beliaulah yang menjadi pemenang.Terdapat 3 orang juri pada perlombaan kali ini,yang bernama: 1.Bapak MA Salim,2.Sr.Mikaela,ADM,3.Sr,Alexia,ADM. Akhirnya dengan menimbang peserta loma ini hanya 1 orang Bapak Agus lalu dilombakan beserta lomba baca cerita sebagai selingan.Setelah beliau selesai mendongeng iapun berganti baju.mengambil snsck kemudian pulang.
Waktupun menunjukan kira-kira pukul 14.00, lombapun telah selesai, sekarang keadaan TK Pius pun nampak sepi,yang tadinya dipenuhi dengan riuh suara anak-anak, sekarang hanya terdengar suara dewan juri menghitung nilai dan panitia yang membereskan ruangan.
Sebagai peserta aku sangat terkesan dengan kegiatan ini, lomba-lomba semacam ini dapat membantu kita untuk belajar berani tampil di depan orang banyak, belajar untuk mencintai kitab suci,meneladani para tokoh kitab suci, belajar mendengarkan orang lain yang sedang berbicara dan masih banyak lagi.Aku harap lomba-lomba semacam ini bisa sering diadakan kembali.
Sekarang pertanyaannya apakah diri kita sendiri sudah rajin untuk membaca kitab suci? Lebih mencinai kitab suci ditimbang handphone,komputer atau barang lainnya?Apakah kita sudah mengajari anak-anak,saudara-saudara dan teman-teman kita untuk rajin membaca kitab suci? Sudahkah kita mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari hal-hal baik yang tertulis dalam kitab suci?
“Marilah dari sekarang kita ajak generasi muda gereja, untuk mencintai kitab suci dan menempatkan kitab suci sebagai salah satu bagian dalam hidup mereka serta mempraktekkan segala hal baik yang tertulis dalam kitab suci dalam hidup mereka”

Ketika Aku Merasa Bangga, Aku Tahu Aku Bukan Siapa-Siapa


Di banggakan merupakan idaman banyak orang, seperti halnya aku. Merasa bangga adalah perasaan yang membuatku merasa jauh lebih baik di atas orang lain. Senang rasanya aku menjadi kebanggaan. Di puji banyak orang merupakan hal yang mengasyikan. Aku menganggap diriku yang nimor satu pada waktu itu. Bangga seekali rasanya diriku ini. Tubuhku seakan dipenuhiboleh kebanggaan. Berhari-hari aku merasakannya, namun rasa itu kian hari kian memudar hilang. Akupun menjadi resah, merasa tidak dibanggakan lagi dan tidak dihargai lagi. Airmatapun menetes dari batinku. Akupun kemudian berdiam diri sejenak, bermenung, meninggalkan semua kenyataan-kenyataan yang ada. Sampai akhirnya aku menemukan kelemahan dalam diriku ini. Ketika semua orang membanggakanku seakan aku tidak peduli dengan mereka. Aku hanya sibuk dengan perasaan bangga dalam hatiku.
Ketika aku berhasil, ucapan selamat yang mereka berikanpun bagai tak ku anggap. Aku merasa menjadi orang yang terhebat, dapat melebihi apapun, dan dapat berbuat apapun. Namun ketika seseorang mampu untuk menjadi lebih baik daripada aku, akupun mulai kesal dan merasa iri. Ketika semua orang berpaling dariku dan membanggakan dia, seakan aku terjatuh.
Seharusnya bagaimanapun aku harus patut berbangga karena dia mampu melakukan yang lebih baik dariku. Dari situpun aku mengngat bahwa ada Dia yang patut aku banggakan dalam hidup ini. Dia yang memberiku hidup. Dia yang terkadang aku lupakan. Dari sinipun aku mampu belajar bahwa aku bukanlah siapa-siapa yang mampu berbuat melebihi Dia. Aku bukanlah siapa-siappa dibandingkan denganNya.

Selasa, 17 Januari 2012

Cemilan


Sebuah usaha yang dipadu dengan doa,
            Akan menghasilkan sebuah keajaiban….
Percayakah kalian akan pernyataan di atas ?  sebuah usaha  tanpa di dukung oleh doa yang tulus dari hati sama saja dengan berperang tanpa membawa senjata. Bayangkan ,kita sudah berlatih setiap hari, bekerja keras untuk mempersiapkan peperangan namun kita tidak membawa senjata, kemungkinan besar kita akan kalah ataupu lari menghindari para musuh. Sama halnya dengan usaha yang sudah kita perbuat namun tanpa di padu oleh doa semua sia-sialah saja..